Tidak ada seorangpun dari kalian mampu menyebutkan kapan aku berawal karena tidak juga satu diantara kalian berani mengatakan kapan aku akan berakhir. Nama pertama untukku sekarang telah tercipta, akulah yang tidak berawal dan tidak akan berakhir. Begitu kalian akan menyebut dan mendefinisikan aku dengan keyakinan terbaik setelah mengalahkan semua logika dan menyatukan segenap rasa. Tugasku saat itu hanya menjadi jawaban terakhir dari semua pertanyaan atas fenomena yang kalian temui
Waktu terus bergulir, kalian makin mendekat padaku. Akrab, karib lalu intim dan terakhir mengikatkan diri padaku. Tidak ada yang salah atau belum ada yang salah, sebelum akhirnya aku kalian formulasikan menjadi sebuah zat melebihi candu. Kalian bukan hanya tak sanggup hidup tanpa aku tetapi kalian mendaulat aku menjadi pengerajin raga, peniup nafas, pengisi jiwa dan arsitek kehidupan kalian. Seiring tugas yang bertambah, nama yang kalian sematkan padaku juga berimbuh, akulah si pencipta
Saat kehidupan yang kalian jalani berjalan nyaman, mulus dan terpapar bagai lukisan indah maka segala sembah sujud, puji dan syukur terus mengepul bagai kumpulan asap merangkak keatas dimana kalian membangunkan sebuah istana untuk aku disana. Namun kalian lupa bahwa aku adalah si pencipta yang menjaga segala ciptaanku seimbang, lihat saja aku hadirkan siang berpelukan dengan malam, aku lahirkan laki laki bergandengan dengan perempuan, aku kenalkan pertemuan diujung dengan perpisahan dipangkalnya, aku munculkan kehidupan berawal tangis dengan kematian berakhir sedu sedan. Jadi aku pun harus memberikan gerah, kerikil bahkan cadas pada kalian. Inilah dualisme yang aku sendiri takkan mampu membendungnya meski kukerahkan segenap kuasaku namun bagi kalian ini menjadi alasan lain untuk memberi nama baru untukku, maha adil
Lihat saja begitu banyak nama dan pekerjaan yang kalian tanggungkan padaku, hingga itu semua membuat nurani kalian tergerak. Melesat teramat cepat malah, kalian merasa harus membela keberadaanku, mempertahankan superioritasku, menambah ketenaranku, mengumandangkan semua namaku diseluruh belahan jagad raya. Aneh sekali. Jika sungguh kalian anggap aku si pencipta tunggal, mungkinkah aku akan tidak dikenal disetiap jengkal lahan ciptaanku sendiri? Jika aku sungguh maha adil atau maha segalanya, mungkinkah aku membutuhkan bantuan kalian untuk merampungkan semua tugasku? Jika aku satu satunya yang tidak berawal dan tidak akan pernah berakhir, mungkinkah segerombol dari kalian bisa membinasakan aku?
Lantas mengapa kalian kerap menggunakan aku sebagai dalih untuk saling berbenturan, bertabrakan hingga membunuh sambil meneriakkan namaku pula. Belum lagi dendam yang terbentuk selalu kalian wariskan pada generasi berikutnya, entah lewat senjata dipundak atau lewat doktrinasi cuci otak sejak usia dini atau bisa saja lewat barisan tulisan dan slogan yang berubah menjadi pupuk penyubur diladang kebencian. Ingat sedikit kebelakang saat kalian merakit bom atom lantas membumi hanguskan umat manusia lain yang kalian anggap musuh, jumlah korban dari bom atom itu mencapai jutaan jiwa namun bom itu hanya mampu mencabut nyawa semua yang ada dipermukaan bumi tetapi lihat bom dendam yang sekarang sedang kalian rakit, ini bisa membunuh ratusan juta bahkan mengakhiri kehidupan seorang bayi yang baru lahir karena harus hidup dengan penuh rasa dendam dan benci. Bom rakitan kalian ini yang akan membinasakan seluruh umat manusia
Seandainya kalian pikir aku menangis untuk salah satu dari kalian karena kalian mati untuk kebesaran namaku, kalian salah besar! Aku tidak akan pernah menangis untuk itu, mengiba pun juga tidak karena aku tidak pernah butuh pengakuan, pemujaan dan penyembahan seperti kalian. Tetapi aku akan selalu menangis meski itu tidak akan kulakukan, saat melihat kalian saling menghilangkan nyawa sia sia untuk aku yang sudah maha besar, maha kuasa, maha adil, dan maha esa. Kalian bukan berjuang untukku tetapi untuk rasa egois kalian sendiri
Ketahuilah bahwa akhirnya semua itu hanya makin menjauhkan kalian dari aku. Sampai kapan wabah ini kalian tularkan? Tak perlu kalian jawab, cukup kalian buktikan dalam perbuatan selanjutnya….
semoga semua mahkluk berbahagia
dunianyawira


































Januari 31, 2009 at 6:49 am
pertamaaaaaaaax!
Januari 31, 2009 at 6:53 am
baru mbaca dan ngasih komen:
ahhh.. tentang TUHAN wir? posting yang bagus.. Tuhanku menciptakanku untuk menyembah padaNya.. tapi nggak ada rugi untukNYA juga bila ak nggak menyembahNYA.. Tuhanku nggak membutuhkan makhluk ciptaanNya..
kedua [lho, pertamanya mana?], oknum-lah yang mengotori agama dan pemujaan thdp TUHAN itu sendiri.. manusia saling bunuh karena manusia sendiri.. TUHANku nanti yang akan menentukan, siapa benar dan siapa salah di peradilan yang seadil – adilnya..
jadi ya.. enjoy aja..
yang penting menjaga hubungan baik dengan Rabb-ku, juga dengan sesama umat manusia..
^^love dis writing so^^
Januari 31, 2009 at 9:21 am
hmm,,
tentang sang Khalik yah wir,,
hmm,,
Januari 31, 2009 at 1:17 pm
sip
nice post
sebuah renungan yg hebat
Januari 31, 2009 at 1:43 pm
merinding ni bacanya…
Januari 31, 2009 at 6:50 pm
siapakah sang pencipta?
bener2 ga perlu dijawab…
Februari 1, 2009 at 12:39 pm
kumpulin lagi wir, renugan-renungan nye
ntar gw bikinin buku
cuma negor ajeh….
Februari 2, 2009 at 11:41 am
pertamanya aq ora mudheng niii………… stelah bolak balik aq baca jadinya aq ngira-ngira sndiri….. btw nice posting euy!!!!
Februari 2, 2009 at 8:15 pm
trus kaalu kagak dijawab aq ngapain dong……………
heheheeh………………………………………
Februari 3, 2009 at 2:20 pm
sama tuh dengan komen di atas, awalnya sy pikir ini curhatan pribadi. ternyata….
ya gitulah.. .gak perlu dijawab kan.
Februari 3, 2009 at 9:00 pm
Nah, ini baru ok plek topicnya, bener bener sip, makin lama makin yahud ae kata katamu plek….keren abiss!!!
Februari 3, 2009 at 9:03 pm
- Seandainya kalian pikir aku menangis untuk salah satu dari kalian karena kalian mati untuk kebesaran namaku, kalian salah besar! Aku tidak akan pernah menangis untuk itu, mengiba pun juga tidak karena aku tidak pernah butuh pengakuan, pemujaan dan penyembahan seperti kalian. Tetapi aku akan selalu menangis meski itu tidak akan kulakukan, saat melihat kalian saling menghilangkan nyawa sia sia untuk aku yang sudah maha besar, maha kuasa, maha adil, dan maha esa. Kalian bukan berjuang untukku tetapi untuk rasa egois kalian sendiri -
ni OK abis kalimate…hehehehe
Februari 4, 2009 at 12:02 am
Yup betul mas, jaman ini banyak orang yang mengajarkan kebencian bukan sebaliknya dan yang terparah kebencian itu sudah ditanamkan pada mereka2 yang masih kecil hingga menciptakan manusia2 robot yang tidak dapat lagi berpikir jernih dengan logika.
Dan Sang pencipta pun bersedih melihat ciptaanya yang bergerak tanpa nyawa……
Februari 4, 2009 at 10:23 pm
Gambaran yang jelas tentang perbedaan Tuhan dengan manusia.
Ide cemerlang, mas!
Salam kenal.
Februari 6, 2009 at 5:14 pm
numpang info yah wir,,
buat yg belom tw,gue dah pindah ke http://finyster.co.cc ,,jadi kalo mw ke blog gue jangan klik nama kahfinyster di komen gue,,klik link yg finyster ajah,,okeh??
datengin yah,,
Februari 7, 2009 at 1:48 pm
jangan main esensi-esensian terus…
Bisa hilang lo..!
Februari 9, 2009 at 1:15 pm
waduhh,, dari 100 persenn nyang ditulis aku cuman setuju 10% palingg..
aku gag akan jawabb dhee,, py kalo mau tahu lebihh..
yuk kita berbincang- bincang..
aku sangat senang banget kalo nanti kita bisa ketemuu dan ngomongin tentang ini..