Bukan lantaran terbawa hembusan angin darat atau perintah bisikan lirih yang terdengar sayup sayup, semalam saat aku masih menyisakan secuil kesadaranku diujung kelopak mata. Hingga siang ini sepasang kakiku tertanam diantara gundukan pasir pesisir, sesekali menikmati sapaan lembut gulungan riak bergelombang. Tidak ada yang aku cari memang dari perjalananku kali ini, jadi aku membebaskan pengelihatanku untuk berkelana kemana saja mereka mau. Benar benar lepas
Beberapa menit sekali aku, terpejam sesaat untuk sekedar menyapa batu karang, tersenyum pada sebatang pohon kelapa atau berbicara pada matahari agar sedikit mengurangi sinarnya. Lalu saat aku membuka mata kembali, tepat kulihat dari arah kiri berkejaran dua orang bocah lelaki, masih sekitar umur 10 tahun, dugaanku. Yang seorang memang berbadan sedikit lebih besar tapi raut wajah mereka jelas menampakkan usia mereka yang sebanding. Tawa mereka terdengar begitu lantang bahkan gemuruh ombak pun tak mampu mengurung suara mereka. Pandanganku segera mengikuti tingkah kedua bocah tadi, seolah ingin sedikit mencuri rasa gembira yang dimilikinya
Belum hilang dari batas mataku, tiba tiba bocah yang berbadan lebih besar mendorong yang lebih kecil, entah sengaja atau tidak tapi menurutku itu hanya gerakan spontan anak kecil yang merasa lelah mengejar sahabatnya yang berlari lebih cepat. Bocah yang lebih kecil akhirnya tersungkur, jangan bilang aku sadis karena aku hanya tertawa kecil saat melihat adegan barusan. Kalian belum melihat aksi klimaks dari drama ini. Si kecil segera bangkit, rona mukanya memang sedikit terlihat kesal tapi sama sekali tidak ada bara dendam dipancaran matanya, pelajaran indah yang harus kita ingat seterusnya. Si besar menunggu beberapa saat, meski tidak ada kata maaf yang terlontar tetapi jika kalian melihat sendiri mimik wajahnya, kalian pasti setuju denganku bahwa penyesalan dan rasa bersalah yang sekarang bersandar dibahunya jauh lebih berat dari beban untuk membuka mulut dan meminta maaf
Aku yang mulai penasaran dengan kelanjutan peristiwa ini, memutuskan untuk beranjak dan berjalan mendekat kerah mereka. Aku merasa sedikit bingung saat menyaksikan si kecil berlagak menuliskan sesuatu diudara, kemudian usai dengan tulisan tadi dia membalikkan badan kearah sahabatnya. Sebuah senyuman yang begitu murni akhirnya memecahkan kebisuan diantara mereka berdua yang sudah terjadi lebih dari tiga menit itu. Mereka kembali bermain bersama. Heran, apa yang dituliskan si kecil tadi pikirku. Mantra, anak anak kecil seperti mereka mana ada urusan dengan hal hal magis atau doa, tapi doa apa yang bisa ditulis begitu singkat. Belum rampung otakku bekerja mencari jawaban yang lebih logis, sekarang gantian aku melihat si besar yang kebingunggan, rupanya tanpa sengaja tadi dia mengusap satu matanya dengan tangan yang penuh pasir dan sekarang dia hampir menangis merasakan pedihnya.
Si kecil berlari mendekat dan segera menolongnya, sambil terus meniupkan nafasnya kerah mata sahabatnya, dia juga sekali kali berkata kata untuk menghibur. Tidak lama, usahanya membuahkan hasil, si besar sudah bisa tersenyum lagi meski beberapa butir ait matanya masih menempel dipipi. Dan kali ini sebuah ucapan terima kasih langsung terdengar dari bibirnya, rupanya tidak hanya orang dewasa, anak anak kecil pun terkadang merasakan lebih susah untuk meminta maaf dibanding berterima kasih. Si kecil hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian untuk kedua kalinya aku melihat si kecil berlagak menuliskan sesuatu lagi diudara. Apa lagi yang dituliskannya kali ini?
Karena tetap tidak menemukan jawaban yang bisa memuaskan pikiran dan batinku sendiri, akhirnya aku putuskan untuk menghampiri mereka berdua. Dengan sebuah sapaan ramah, aku memulai percakapan dengan mereka hingga akhirnya aku berkesempatan untuk menanyakan langsung pada si kecil, apakah gerangan yang dituliskannya diudara dua kali tadi? Ini jawabannya…
“Pertama tadi aku menuliskan, kejengkelanku karena sahabatku tidak sengaja telah mendorongku hingga jatuh lalu yang kedua aku menuliskan kebahagiaanku karena aku bisa menolong sahabatku menghilangkan pasir yang membuat matanya pedih” polos sekali si kecil menjelaskan padaku yang sekarang hanya bisa berdiri melongo dengan tubuh yang mendadak terasa jauh sekali lebih kecil dari si kecil. Aku sungguh berjiwa lebih kecil dari bocah berumur tidak sampai separo dariku. “Lantas..lantas kenapa kau menuliskannya diudara? Kenapa tidak diatas pasir atau ditempat lain supaya temanmu juga bisa mengerti maksudmu?” aku bertanya lagi dengan suara yang sedikit tergagap karena masih merasa malu pada anak ini dan pada diriku sendiri tentunya. “Ooo.. tidak om, aku menuliskan diudara karena aku tidak ingin mengingat ingat lagi semua kesalahan yang pernah dilakukan orang lain padaku maupun semua kebaikan yang sudah kulakukan pada orang lain. Angin akan dengan cepat menghapuskan tulisanku diudara tadi, secepat aku menghapuskan semua yang sudah terjadi padaku. Om juga boleh koq, meniru cara saya tadi kan udara dan angin ada dimana mana”
Selanjutnya aku hanya bisa manggut manggut dan tersenyum puas mendengar celoteh si kecil barusan. Aku membuka tas punggungku, mengambil dua batang coklat lalu kuserahkan pada mereka sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih tentunya. Gantian mereka yang heran, seharusnya kan mereka yang bilang terima kasih padaku. Berlalu dari mereka, jemariku segera menari diudara menuliskan semua kesalahan yang tanpa sengaja pernah dilakukan orang lain padaku dan semua pertolongan yang pernah aku berikan pada orang lain. Seandainya semua orang mau belajar dari si kecil, aku yakin perselisihan, pertikaian, persengketaan bahkan perang seperti sekarang yang melanda palestina dan israel atau negara negara lain tidak akan terjadi lagi.
Hanya membutuhkan sikap sederhana, kebiasaan kecil, tekad bulat yang dimuali dari diri kita sendiri untuk membuat sebuah perubahan besar didunia ini. Akan kita biarkan semua kesalahan orang lain berakhir pada diri kita atau terus berlanjut hingga melibatkan semakin banyak orang yang sama sekali tidak tau darimana asalnya semua dendam ini… pilihannya ada pada diri kita masing masing dan dimulai dari saat ini, detik ini!
Dua hal yang harus selalu kita lupakan : kesalahan kesalahan orang lain pada kita dan kebaikan kebaikan kita pada orang lain
semoga semua makhluk berbahagia
dunianyawira


































Januari 20, 2009 at 8:05 am
Pernyataan yang bagus dan baik :
dan satu lagi :
“Lakukanlah semua pekerjaan dengan senang dan tanpa pamrih”
Semoga balasannya sesuai amal perbuatan.
Januari 20, 2009 at 8:33 am
Nice post, Wira!
Sejujurnya…dari kepolosan anak kecillah aku mengerti dunia kebahagian yang tersirat dimata dan hati yang polos mereka.
Tak ada dendam dan tak kesenjangan, serta sikap peduli yang tinggi dari mereka.
Thanks buat renungan menarik ini!
Januari 21, 2009 at 11:32 am
keren wira,,keren,,
keren post nya,,
bener noh, kita ga bole nginget2 ksalahan orang laen ama kebaekan kita ama orang laen,,
kita harus ikhlas,,
Januari 21, 2009 at 4:50 pm
nice post
menyentuh sekali
Januari 21, 2009 at 10:29 pm
*hiks
Postnya keren Wir.. Put jd inget my unforgettable revenge yg lg disiapin untuk someone..
Thanks a bunch
^^
Januari 24, 2009 at 4:34 pm
Dua hal yang harus selalu kita lupakan : kesalahan kesalahan orang lain pada kita dan kebaikan kebaikan kita pada orang lain.
Tapi, kenapa manusia lebih suka melakukan kebalikannya…? Mengingat kesalahan orang lain dan mengingat kebaikan kita kepada orang lain…
Semoga tidak terjadi pada saya dan semua teman2…
Januari 24, 2009 at 7:58 pm
sorry mas wira, ada yg kelupaan tadi euy..
mampir di blog ku yah, ada titipan buat mas wira tuh..hehehe..:)
salam,
bonar
Januari 28, 2009 at 2:05 am
logikanya gampang,tp melakukannya sgt sulit.apalagi buat tipe2 org pendendam n temperamen tinggi tp makasih dgn membaca tulisan ini bisa menjadi masukan n pertimbangan bagi saya.