Jejak kaki kalian akhirnya harus saling berlawanan arah. Kau lelaki pelindungku, memilih berlari mengikuti mentari sedangkan engkau perempuan penyejuk jiwaku lebih memilih untuk menelusuri bumi mencari cahaya rembulan. Bagi kalian terus beradu punggung adalah pilihan terbaik, setidaknya kalian bisa terus melangkah daripada harus statis disatu titik untuk selalu bergandengan. Lantas apa pilihan untukku? Aku yakin kalian sudah menyiapkan jawaban terbaik juga untuk pertanyaanku. Ahh…ini rupanya pilihan terbaik yang kalian berikan, aku boleh berlindung pada matahari atau bernaung dibawah bulan. Tapi tidak keduanya
Apakah sebagai gadis kecil yang hadir dari benih cinta kalian, aku ini terlalu serakah jika menginginkan keduanya? Aku ingin menjadi bumi. Terus mengitari matahari karena darinya aku bisa belajar menjadi sumber kehidupan bagi mahkluk lain dan aku pun tak ingin lepas dari kawalan rembulan karena dialah sandaranku satu satunya saat batin ini merasa nelangsa. Tapi kalian justru bagai siang dan malam yang tak pernah bisa hadir bersamaan dalam duniaku. Simpang jalan manapun yang akhirnya harus kutempuh pasti meninggalkan pahatan yang teramat dalam disalah satu katup jantungku. Aku menangis ketika menapaki jalan pilihanku, menjauh dari rembulan
Sang waktu menjadi satu satunya pihak yang selalu ada disisiku, perlahan tapi pasti ia mengeringkan lara jiwaku. Aku terus berusaha mengerti semua alasan kenapa kalian harus berpisah tetapi segala upayaku semakin melekatkan ketakutan dalam diriku. Ketika aku beranjak dewasa, rasa takut itu sudah bermetafora menjadi bayanganku, gelap dan tak bisa kulepas. Aku berjanji jika nanti tiba waktuku, akan kuciptakan dunia yang tak lagi menjadikan sifat egois sebagai porosnya. Getir itu tak ingin kukecap sekali lagi dalam kehidupanku kali ini
![]()
Aku berdiri dihadapan altar suci, berdampingan dengan pria yang kupilih untuk bersama sama menghabiskan sisa hidupku. Usai mengucap janji kudus, semoga hanya maut yang memisahkan kita berdua, aku menoleh kebelakang. Tampak dibarisan paling depan, lelaki pelindungku yang meniupkan nafas kehidupanku kedunia ini. Engkau masih terlihat begitu gagah meski aku tau kamu sangat lelah, tiga kali dirimu mencoba mencari pelabuhan tambatan sampanmu namun ombak dan badai selalu menghempaskan kembali kelautan
Tidak lama lagi kau akan mencoba berlabuh kembali, keempat kalinya… maksudku terakhir kalinya, karena kata kata itu yang selalu kupanjatkan dalam setiap doaku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia diusiamu yang mulai senja jadi melupakan sejenak ketakutanku pada sebuah ikatan cinta adalah hadiah dariku untukmu
Rupanya kehidupan berkeluarga bukan semata mata perhitungan matematis yang bisa kita ketahui hasilnya dengan pasti setelah kita terapkan rumus rumus yang sudah kita hafal luar kepala dan bukan juga sekedar revisi dari kesalahan orang tua yang sudah kita ketahui. Itulah mengapa barangkali sejarah sering terulang lagi. Dan aku tak luput dari proses itu
Pria yang menjadi pendampingku perlahan mulai menampakkan wajah aslinya, menggeser topeng yang selama ini membutakan semua inderaku. Dihidupnya bukan lagi aku wanita satu satunya, obat obatan terlarang juga masih menjadi sahabat karibnya dan perlakuan kasarnya benar benar membawaku mencapai titik didih. Satu lagi katup jantungku tertusuk, berdarah
Aku harus segera mengambil keputusan berpisah, sekarang! perintahku dalam hati. Lalu sisi batinku yang lain membunyikan lonceng seakan mengingatkan kembali saat aku berdiri disimpang jalan yang sangat kubenci itu. Aku harus memilih satu dari dua jalan itu lagi, hanya berbeda peran saja. Tidak bisakah aku bertahan? Aku sungguh tidak ingin janin yang sekarang kukandung mengalami semua rasa pahit yang menderaku dulu. Aku tidak menangis kali ini, melangkah dengan pasti disetapak yang kupilih
Satu setengah tahun sudah berlalu sejak tangisan buah hatiku untuk pertama kalinya aku dengar. Dan sore itu aku kembali kerumah dengan rasa lelah juga penat oleh semua pekerjaan. Tapi selalu ada energi baru yang tiba tiba terinjeksi dalam tubuhku setiap melihat langkah kecilnya berlari tertatih kearah pelukanku, dialah bunga yang hanya milikku… just mine. Dalam pelukan kami bicara tanpa bahasa… Tidak mungkin kita meminta pada matahari untuk menambah terik sinarnya atau memohon pada hujan untuk mengurangi guyuran airnya. Semoga kelak engkau pun mengerti, kenapa aku pun memilih perpisahan
Untukmu bunga hidupku… engkau timur dimana aku tenggelam, engkau muara kemana aku mengalir, engkau rumah tujuanku pulang, engkaulah dunia tanpa ego ditengahnya…
dedicated to :
“my beloved sister and just mine”
dunianyawira


































Januari 5, 2009 at 7:21 am
“engkaulah dunia tanpa ego di tengahnya”
love this word, wira.. andai ada orang yang patut Putri sampaikan kata – kata ini..
Januari 5, 2009 at 9:04 am
wah keren mas postingannya……..
Januari 5, 2009 at 10:18 am
Just Speechless….Amazing!
There’s a gold in your hand to wrote this la..
Love it!
Januari 5, 2009 at 10:22 am
Just Speechless….It’s Beautiful,..Amazing!
There’s a gold in your hand to wrote this la..
Love it!
Januari 5, 2009 at 11:34 am
maksudnya bunga jasmine, ya ?
*OOT detected*
Januari 5, 2009 at 1:35 pm
Kuakui : Engkaulah Duniaku, just mine.
@_@
:terhanyut:
Januari 5, 2009 at 5:49 pm
waw!! deep meaning inside!
keren banget mas!! saya ampe terharu dan nyaris nangis kalo ndak mikir malu masih dikantor T_T pengen liat Just Mine yang pasti secantik jasmine ya mas
semangaaatt!!!
Januari 5, 2009 at 7:25 pm
puitis nan puisi
dalam benget….cool
Salam kenal.
Januari 6, 2009 at 8:33 am
Bahasanya bagus…
aku yakin banyak orang mengalami hal seperti ini…semoga ceritamu ini juga mampu menguatkan mereka…
Tuhan sungguh bijaksana, tak mungkin membuat kita hanya menyandarkan hidup pada dua titik penenaranggan (bulan dan matahari) masih ada titik lain walaupun tak seterang kedua cahaya ini (misalnya bintang)…tapi setidaknya masih ada titik terang yang dipersiapkan buat kita untuk menerangi jalan kehidupan kita…
Ya…kadang itulah hidup…kita tak mungkin meraup semua bahagia, kita diharuskan untuk memilih salah satu, karena sisa disisi lain akan menajadi kekurangan kita dan akan menjadi kelebihan kita.
Kekurangan kita akan kita dapat pada sosok orang yang berbeda…dan kelebihan kita akan kita bagikan pada orang yang memerlukannya.
Perpisahan orang tua, anaklah yang paling sengsara…anaklahlah yang akan kehilangan kendali dan pegagangan…
Semoga semua (siapapun mereka) dikuatkan…dan cepat menemukan sisi kebahagian yang lain , karena siapapun mereka..aku yakin rasa sakit dan sesak dalam dada sulit untuk hilang…kecuali menemukan lagi pohon kebahagian yang benar-benar mampu untuk melindungi dan memancarkan cinta kasih yang sesungguhnya…
Januari 6, 2009 at 10:29 am
“engkau donat tanpa lubang di tengahnya”..masuk gak ya mas?
hihihi…salam kenal…sori, ngerusak kesyahduan postingan yg keren ini…
Januari 6, 2009 at 9:19 pm
wew…..saya tertarik dengan penulisan bahasanya. namun saya sangat terpukau dengan quote dibawahnya atau layakkah sudah disbeuts ebagai puisi. great
Januari 7, 2009 at 6:18 am
kata-katanya dalaem bangetttt
Januari 7, 2009 at 8:09 am
Selamat ya, akhirnya dapat fave artikel. Konfirmasi k cantigi ya..
Januari 7, 2009 at 8:48 am
selamat ya… dah menang IBSN award ya??
salam kenal…
pertama xxxxxxxxxx…
Januari 7, 2009 at 8:57 am
selamat, artikel anda: sepotong kue untuk jiwa, terpilih untuk 1st IBSN Favorite Article Winner, silakan kunjungi cantigi untuk detail.. ^_^
Januari 7, 2009 at 11:31 am
selamat anda jadi pemenang
semoga semakin rendah hati dan bermanfaat bagi yang lain
Januari 7, 2009 at 11:49 am
Wah…Wira, SELAMAT ya!
mmmm tulisanmu dan bahasa tulisanmu, memang sangat menarik!
Terus semangat dan terus berkarya!.
Januari 7, 2009 at 1:36 pm
membaca tulisanmu, saya rasa kamu punya bakat sastra deh. Jangan2 sudah pernah nerbitin buku nih.
Januari 7, 2009 at 5:31 pm
jgn lupa kirim nama, alamat lengkap, no hape ke email saya ya, buat keperluan pengiriman reward. txs.. ^_^
Januari 7, 2009 at 6:49 pm
selamat yah udh menang tulisannya..tetap berkarya mas wira…tetap rendah hati..tetap berbagi…
Januari 14, 2009 at 10:05 am
dalam banget ya…